Selasa, 13 Maret 2012

Yeoja Nuguya ?


ini sambungan yang lalu , akhirnya siap juga ^^
selamat membaca :D

Author : Kim Shira dan Kim Rulnia
Main Cast : Kim Shira , Kim Rulnia , Kim Kibum , Lee Donghae ,Yesung, Kyuhyun .
Other Cast : Im Noo Mee (Nova Aulia) , Park Yun Ri (Sri Wahyuni) , Baek Jun Wea (Wafa), Wookie , Siwon , Henry , Jessica
Genre : Romantic , Friendship , Love .

Esok harinya.
Yesung sedang berjalan ke kelasnya.
 “Annyeong yeppa,” sapa seseorang.
Yesung menoleh, “Ngg ?”
Seorang yeoja menghampirinya dan membungkuk. “Jessica imnida, kelas 3.II,” katanya.
Yesung mengerutkan kening, lalu ikut membungkukkan badan, “Ne, bangapseumn.”
Yeoja itu pun tersenyum puas, “Kau mau ke kelasmu kan ?” kata jessica.
Yesung mengangguk, “Ha, wae ?” “Aku juga ingin ke kelas, karena kelas kita searah, bagaimana kalau kita jalan bersama ?” ajak jessica.
Yesung menatap Jessica dengan bingung kemudian mengangguk dengan ragu, “Boleh saja,” kata yesung lalu kembali berjalan.
Jessica tersenyum girang dan ikut berjalan disamping-nya. Saat itu disekolah tak begitu ramai, karena masih agak pagi sehingga hanya sedikit yang memperhatikan jessica dan yesung yang berjalan bersama.
 “Hmm, kudengar kau pindahan dari sekolah di Seoul bagian selatan ya ?” tanya Jessica.
 Yesung melirik jessica dengan heran, “Ne.” Jessica mengangguk-angguk sambil ber-oh kecil.
 “Kenapa kau pindah oppa? Bukankah sekolahmu yang dulu itu sekolah yang bagus.”
Yesung tertawa kecil mendengar pertanyaan Jessica, “Bukankah bagus kalau aku pindah? Dengan begitu kau bisa bertemu denganku bukan ?” tanya yesung balik sambil menoleh ke jessica.
Jessica terpana melihat yesung yang tertawa kecil. Wajahnya memerah, “Benar juga,” kata jessica sambil memaksa dirinya untuk tertawa. Jessica salah tingkah, “Hm, bagaimana akhir pekanmu ?” yesung menerawang lalu tertawa kecil.
“Kau tahu wasabi ?” tanya yesung.
“Mwo ?” tanya jessica bingung.
“Wasabi,” kata yesung lagi.
 “Ah, lobak hijau jepang, wae yo ?” tanya jessica.
“Aku pergi dan aku memakannya kemarin saat akhir pekan,” kata yesung sambil berbinar-binar dan menerawang, “Lucu sekali,” kata yesung.
Jessica yang melihat wajah yesung, tiba-tiba menjadi tegang, wajah yesung bersemu merah dan terlihat manis sekali, “Kenapa wajahnya begitu? Aigoo, kenapa wajahnya seperti menyukai seseorang ?” batin jessica cemas.
Jessica diam sambil menundukkan kepalanya, beberapa saat mereka berjalan tanpa sambil bicara.
 “Hm, begitu. Akhir pekan kalian menyenangkan ?” tanya jessica lagi.
Yesung mengangguk, “Ne, sangat menyenangkan bisa makan bersama,” kata yesung.
 Jessica makin cemas, “Yeppa punya pacar? Tidak..tidak mungkin..ini tidak boleh..” pikir jessica semakin tidak tenang. “Kau pergi dengan pacarmu ?” tanya jessica pelan sambil menahan napasnya menunggu kepastian yesung.
Yesung menerawang melihat ke langit-langit koridor, sambil bergumam tak jelas, sedangkan jessica berusaha menenangkan hatinya dan memasangkan telinganya dengan baik.
“Tidakk.tidakk.tidakk.” batin jessica.
 “Hm,” yesung menoleh, “Anniy.” Jessica bernapas lega mendengar itu.
Dia tersenyum kecil sambil bersyukur didalam hati. Tapi tiba-tiba dia menegang lagi, “Kalau yeoja yang kau suka ?” yesung kembali menerawang.
Tangannya dimasukkan kedalam saku celananya, “Yeoja? Hm, ada,” kata yesung sambil tersenyum misterius.
 Detak jantung jessica berdetak cepat dan kencang. Napasnya tak beraturan, dia cemas dan tak tenang.
 “Jin.jinjja ?” kata jessica pelan.
Yesung tersenyum dan mengangguk dengan yakin.
Jessica mengalihkan pandangannya sambil menahan perasaannya, “Nugu ?” katanya dingin.
 Yesung tersenyum, “Yahh, saat ini aku hanya menyukai dua yeoja saja,” kata yesung dengan riang.
Jessica mendecak kesal, dia menggigit bibir bawahnya dengan perasaan bercampur aduk.
“Arayo, nugu ?” katanya pelan dengan nada kesal.
 Yesung tertawa sambil melihat langkah kakinya, “Sepertinya kau sangat ingin tahu,” kata yesung geli.
Jessica tersentak, wajahnya memerah.
Yesung semakin tertawa melihat langkah kakinya sendiri, “Baiklah akan kuberi tahu.”
Jessica menahan napasnya sambil berkonsentrasi penuh, dia mengepalkan tangan dan semakin mensejajarkan langkah-nya dengan yesung.
Dilihatnya yesung yang berjalan dengan santai-nya, “Orang itu..” kata yesung terputus.
 Jessica menyipitkan matanya menanti kalimat selanjutnya, yesung menoleh melihat jessica,
 “Shican 1.IV dan Rulnia 1.VII,” kata yesung polos.
Jessica tersentak, “Mwo ?” katanya.
 Dia mendecak kesal, karena merasa dipermainkan tapi kemudian mendesah dan bernapas lega karena itu artinya yesung belum menyukai seorang yeoja pun.
Jessica tertawa karena perasaan leganya. “Aigoo, kau ini,” komentarnya.
 Yesung tersenyum kecil. “Ah, itu kelasku,” kata yesung sambil mempercepat langkahnya.
Kemudian dia berdiri di depan pintu kelasnya. “Aku masuk duluan ya.”
Jessica mengangguk, “Ne.”
Yesung melambai sebentar dan masuk ke dalam kelasnya. Sedangkan jessica melanjutkan perjalanan.
Dia berjalan perlahan, “Yeppa tak boleh menyukai seorang yeoja, itu gawat,” batin jessica. “Pokoknya noo mee, junwea dan yunrhi harus mendapatkan data yang lebih akurat.”
*****
Noo mee sedang melihat dirinya dicermin, dia yang biasanya selalu mengikat rambutnya, hari ini memilih untuk menggerai rambutnya, sekali lagi dia merapikan rambutnya.
“Baiklah,” katanya sambil melihat bayangannya dicermin. “Aku akan menemui yeppa hari ini,” kata noo mee lagi.
*****
Junwea melipat sapu tangan yesung dengan berhati-hati. Lalu, menyemprotkannya dengan parfumnnya.
“Yak, perfect,” katanya puas. Kemudian dia mengambil pitanya dan diikat disapu tangan yesung. “Hyaa, manis sekali, yeppa pasti suka,” kata junwea senang.
*****
Yesung duduk ditempat duduknya sambil mengaduk-aduk tasnya.
“Baiklah, nanti aku harus mengembalikan ini padanya,” kata yesung sambil memegang sebuah kotak.
*****
Siwon menatap wookie yang sedang duduk disampingnya.
“Hyaa, bagaimana ini ?” katanya memelas.
Wookie tampak berpikir sejenak, “Entahlah aku tidak tahu pasti,” jawab wookie.
“Wookie ah,” kata siwon lemah. “Aku benar-benar menyukainya.
“Ara,” jawab wook lagi.
 “Apa menurutmu dia menyukaiku ?” tanya siwon pelan.
Wook menatap siwon, “Mungkin saja, kau kan tampan.”
Siwon tersenyum kecil, “Aigoo,” desah siwon.
Wook memegang bahu siwon, “Begini saja, jika kau benar-benar penasaran, aku akan coba untuk bertanya dan berbicara pada adikku,” kata wook.
Siwon tersenyum cerah, “Jinjja ?” wook mengangguk kuat-kuat. “Aigoo, gomawo wookie ah,” kata siwon lega.
“Ne, cheonmwanayo, tapi mungkin aku akan bicarakan dua minggu lagi, karena minggu ini dia tidak ke dorm ku,” jawab wook.
“Tidak apa, tak masalah,” kata siwon.
“Baiklah,” jawab wookie.
“Ah, ternyata seperti ini rasanya menyukai seorang yeoja, aku hampir gila,” kata siwon sambil menatap langit-langit.
“Kau berlebihan,” kata wook sambil tertawa kecil.
Tett.tett.tett.tett
        “Bel masuk, ayo kita masuk kelas,” ajak wook.
*****
90 menit sudah pelajaran berlangsung, di kelas yesung suasana dalam keadaan hening. Mereka semua sedang memperhatikan Mr.jhon yang sedang menjelaskan tenses baru didepan kelas. Yesung menopang dagu, lalu mencoret-coret bukunya dengan bosan.
“Aku pasti sudah gila,” kata yesung dalam hati.
Dia mendesah perlahan lalu menggeleng-geleng sendiri.
“Tidak.tidak.aku tidak gila,” batinnya lagi. “dia hanya mirip, tentu saja, pasti begitu.”
Yesung kemudian membuka tasnya, dan mengeluarkan sebuah kertas yang bergambar denah sekolahnya.
“Apa itu ?” bisik Lee Jinki, teman sebangkunya. Yesung tersentak kaget.
“Anniy, hanya sebuah denah,” bisik yesung datar.
Jinki mengangguk-angguk sambil ber-oh kecil. Lalu dia kembali memperhatikan Mr.jhon. sedangkan yesung menatap kertas itu baik-baik.
“Disekolah ini ada 12 kelas untuk satu angkatan, itu berarti ada 36 kelas semuanya,” kata yesung dalam hati.
Lalu dia kembali menyilang-nyilangkan gambar kelas tertentu.
“Kelas 3.I, 3.II dan 3.III , tidak ada, kelas ini juga tidak ada, yang ini dan yang ini tidak ada, huuffft,” kata yesung pelan sambil menatap denah kelas itu.
Yesung kembali menyilang-nyilang, gambar kelas dikertas itu.
“Tidak ada, tidak ada, tidak ada,” katanya pelan.
Kemudian dia berhenti, dilihatnya lagi kertas itu.
 “Masih ada 28 kelas lagi,” desahnya.
Kemudian dia menelungkupkan kepalanya diatas meja.
“Harus seperti apa lagi caraku,” bisiknya frustasi.
“Yesung ah, goenchana ?” tanya jinki disebelahnya.
“Ne, aku hanya ngantuk,” jawab yesung singkat.
“Jinjja? Kalau begitu lebih baik kau cuci muka saja,” kata jinki.
Yesung terdiam sejenak, “Cuci muka? Ide bagus,” gumam yesung.
“Mwo ?” tanya jinki.
“Ah, anniy, gomawo jinki ssi,” kata yesung.
Lalu dia berdiri menghampiri Mr.jhon dimuka kelas. Dengan alasan ke toilet, yesung pun dengan mudah keluar dari kelasnya.
“Namja aneh,” kata jinki setengah ketawa sepeninggal yesung.
Diluar yesung segera mencuci mukanya di wastafel. Berusaha untuk menyegarkan pikirannya.
“Baiklah, aku akan berusaha lagi kali ini.”
*****
Suasana kelas yang hening, para siwa sibuk membaca buku mereka, rulnia menopang dagunya. Sesekali dia menguap karena bosan, dia berusaha berkonsentrasi pada pelajaran-nya, didepannya sebuah buku besar tentang kehidupan sosial asia terbuka lebar.
“Berapa lembar lagi yang harus ku baca ?” kata rulnia dalam hati sambil membalikkan lembaran berikutnya.
“Rulnia ssi ?” panggil seseorang setengah berbisik.
Rulnia menoleh ke sumber suara yang ternyata seorang yeoja yang sekelas dengannya, yeoja itu melempar sebuah gulungan kertas, tepat diatas meja rulnia. Rulnia mengambil kertas itu, menatapnya sebentar dan menoleh ke arah yeoja itu lagi.
“Ige mwoyeyo ?” bisik rulnia.
“Baca saja,” bisik yeoja itu.
Rulnia angkat bahu, lalu membuka gulungan kertas itu. Didalam kertas itu ada banyak tulisan. Rulnia membacanya.
“rulnia, bantu aku, setiap malam aku tak dapat tidur karena memikirkan yeppa ku yang sangat tampan. Hampir gila rasanya, kau tahu dialah pilihan terakhirku, belahan jiwaku, selamanya aku akan tetap menyukainya.”
Rulnia mengerutkan kening, dan dia pun menoleh ke yeoja itu. Yeoja itu tersenyum malu-malu, rulnia membaca lagi.
“karena begitu hebatnya perasaan yang aku rasakan, aku yakin kalau dia adalah jodohku.”
“Aigoo,” desah rulnia lelah.
“Rulnia ssi ?” panggil yeoja yang lain.
Seketika sebuah gulungan kertas mendarat lagi di mejanya. Rulnia menoleh, ternyata itu dari yeoja yang berbeda. Sedetik kemudian, sebuah gulungan kertas datang lagi, empat, lima, enam, tujuh, gulungan kertas memenuhi meja rulnia.
“Omo ?” sentak rulnia bingung.
Dengan sabar rulnia membuka kertas yang lain.
“rulnia jawablah, apa makanan kesukaan yeppa, apa yang dibencinya, apa hobbynya, kemana dia setiap minggu ?”
Rulnia geleng-geleng kepala, dia mengambil kertas lain.
“aku akan membayarmu berapa saja, asalkan kau memperkenalkanku dengan yeppa.”

Belum selesai rulnia membaca kertas-kertas itu, tiba-tiba lima kertas muncul secara bersamaan.
“Hyaa, dekatin langsung orangnya saja !” kata rulnia pada teman-temannya.
“Oh rulnia,” kata teman-temannya dengan wajah memelas.
“Ada apa disana ?” tanya seorang guru yang sedari tadi duduk dimejanya.
Rulnia dan teman-temannya tersentak kaget dan salah tingkah. Mereka segera memperbaiki duduk mereka, dan pura-pura kembali membaca buku.
“Kim Rulnia,” panggil guru itu.
“Ne, yongshi sennin ?” jawab rulnia.
“Apa itu dimejamu? Banyak sekali sampah, cepat buang !”
Rulnia terdiam sejenak melihat tumbukan kertas dimejanya, lalu melihat teman-temannya yang sudah kecewa dan kesal.
“Mianhae, aku harus membuangnya,” kata rulnia lalu mengambil kertas-kertas itu.
Kemudian keluar kelas dari kelasnya. Dan membuang semua kertas-kertas itu.
“Ahh, kenapa mereka tidak datang pada yeppa saja sih,” gumam rulnia.
Seketika dia ingin kembali kekelasnya, tak sengaja dia melihat sosok seorang namja yang sedang melihat sebuah kelas dari jendela belakang kelas itu. Rulnia menyipitkan matanya, memastikan apa yang dia lihat.
 “Yeppa ?” bisik rulnia pada dirinya sendiri. “Sedang apa dia disitu ?”
Rulnia sembunyi dibalik tiang koridor. urung kembali kekelasnya dia malah memperhatikan yesung dari jauh yang terus berdiri dikelas itu. Cukup lama yesung berdiri dikelas itu, sampai kemudian dia beranjak pergi menuju kelas disebelahnya. Kali ini kelas rulnia, rulnia yang tadi bersembunyi ditiang koridor depan kelasnya segera bersembunyi di balik pohon didepan kelasnya. Entah mengapa kali ini dia enggan, menyapa oppanya itu. Dia hanya memperhatikan yesung sambil bertanya-tanya sendiri.
Lagi-lagi tindakan yesung hanya berdiri dijendela belakang kelas rulnia, dan melihat ke dalam. Entah apa yang dia lihat, dan entah apa maksudnya berbuat seperti itu.
 “Aneh,” pikir rulnia.
Dilihatnya lagi yesung tidak menunjukkan reaksi perubahan. Dia tetap berdiri dan terus berdiri. Setelah beberapa lama, kemudian yesung menghela napas, dan mencoret-coret sebuah kertas yang ia pegang sejak tadi.
“Apa itu ?” bisik rulnia penasaran.
Lalu yesung pindah tempat ke kelas disamping kelas rulnia. Dan melakukan hal yang sama. Berdiri di jendela belakang dan melihat ke dalam. Rulnia mengerutkan kening, tak mengerti dengan perbuatan oppanya yang satu itu.
Rulnia mengikuti yesung dari belakang sambil sembunyi-sembunyi. Berusaha agar yesung tidak mengetahui kehadirannya. Kali ini ada sekitar 6 kelas yang dilalui yesung dengan aksi yang sama. Entah mengapa setiap pergantian kelas, yesung selalu menunjukkan reaksi yang sama yaitu mendesah sebentar lalu mencoret-coret sebuah kertas.
Rulnia mengintip sedikit dari balik tiang koridor. Tak jauh dari kelas yang diperhatikan yesung. Demi memperhatikan oppanya dan berusaha menarik kesimpulan dari tindakannya itu.
“Mungkinkah dia sedang absensi kelas ?” tanya rulnia dalam hati.
“Hm, eonni !” seseorang menepuk pundak rulnia.
Rulnia berlonjak kaget hingga kepalanya membentur tiang.
“Hyaa shican, aigoo,” ringis rulnia setengah berbisik sambil mengusap kepalanya.
“Hyaa, goenchana ?” kata shican polos.  
“Ssstttt,” kata rulnia sambil meletakkan telunjuknya dibibir, “Jangan berisik.”
“Ha, wae ?” tanya shican heran sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. “Sedang apa eonni ?”
Rulnia menarik shican agar ikut bersembunyi bersamanya, lalu dia mengintip koridor.
 “Lihat itu,” kata rulnia sambil mengangkat dagunya kearah yesung.
Shican menurut, dia ikut mengintip ke koridor. Seketika keningnya berkerut, “Yeppa ?” tanya shican, “Sedang apa dia ?” shican menatap rulnia dengan bingung.
“Molla,” kata rulnia, “Dari tadi dia seperti itu, berdiri dijendela belakang kelas secara bergantian,” jelas rulnia lagi.
“Aneh,” gumam shican.
Shican memperhatikan yesung yang sedang mencoret-coret sebuah kertas yang ia pegang.
“Nah lihat, dia akan pindah kelas,” kata rulnia.
“Kau tahu darimana ?” tanya shican.
“Aku hanya memperhatikan, setiap dia akan pindah sebelumnya dia akan mencoret-coret kertas itu,” jelas rulnia.  
Shican melihat yesung lagi, benar saja kini yesung sedang berjalan menuju ke kelas sebelahnya.
“Ayo kita ikut,” ajak rulnia sambil menarik shican.
Shican menurut, mereka pun berpindah-pindah dari balik tiang satu ke tiang lainnya hingga berhenti di satu tiang yang tak begitu jauh dari yesung.
Rulnia mengintip sebentar, “Aku penasaran, apa isi kertas itu,” bisik rulnia.
Shican memperhatikan yesung baik-baik. “Hyaa eonni, sebaiknya kita ketiang yang itu,” kata shican sambil menunjuk tiang yang cukup dekat dengan yesung.
“Anniy ah, itu terlalu dekat, kita bisa ketahuan,” tolak rulnia.
“Dia tidak akan menyadarinya, tenang saja,” kata shican meyakinkan.
“Anniy ah, disini saja,” jawab rulnia.
“Dia tidak akan tahu, kajja kita mendekat,” ajak shican.
Rulnia geleng-geleng.
“Baiklah, aku saja,” kata shican.
“Shican. .” cegat rulnia, tapi terlambat, shican mulai berpindah-pindah dari tiang satu ke tiang yang cukup dekat dengan yesung.
Yesung tidak menyadari tindakan saengnya itu. Shican menatap rulnia sambil mengangkat jempolnya. Rulnia hanya geleng-geleng kepala memaklumi tindakan nekat shican. Shican berkonsentrasi melihat kertas apa yang dipegang yesung. Matanya menyipit, tapi tetap tak bisa melihat isi kertas itu. Rulnia melambai-lambai. Shican menoleh ke arah rulnia.
“Gimana, apa isinya ?” bisik rulnia dari jauh.
“Molla,” jawab shican dengan bahasa bibir. Rulnia menghela napas.
Tiba-tiba shican mendapat ide, dia mengambil hapenya dan mengaktifkan kamera hapenya, kemudian dia memfokuskan pada kertas itu dan menzoomnya. Shican mengerutkan kening dengan panic.
 “Inikan___.” Shican menelan ludah.
Shican menatap hapenya baik-baik. Tiba-tiba yesung yang berdiri mematung sejak tadi bergerak dan menyandarkan dirinya ke tiang koridor terdekat yang merupakan tempat persembunyian shican juga. Rulnia yang melihat yesung dan shican di satu tiang yang sama meringis perlahan. Shican merapatkan tubuhnya ke dinding tiang dan mengintip dengan hati-hati.
Yesung mendesah dan mengangkat kertas itu.
“Disini juga tidak,” kata yesung lalu mencoret kertas itu.
Shican melihat apa yang sebenarnya di coret-coret oleh yesung. Yesung memejamkan matanya dan diam beberapa saat, sepertinya dia sedang berpikir sesuatu. Tak lama kemudian, dia melihat jam tangan kirinya.
“Baiklah, sebaiknya aku kembali ke kelas,” kata yesung pelan.
Shican kembali menyembunyikan dirinya. Secara parlahan yesung melangkahkan kakinya dan pergi dari tempat itu menuju kelasnya. Kali ini rulnia tak lagi mengikutinya, dia lebih memilih menghampiri shican dan bertanya macam-macam.
“Hyaa, apa yang kau lihat ?” tanya rulnia penasaran.
“Sebuah gambar denah sekolah,” jawab shican, “Aku juga tidak tahu pasti.”
Rulnia mengangguk-angguk
“Baiklah eonni, aku harus kembali kekelasku, eonni juga kembalilah kekelas,” kata shican.
“Kau benar,” kata rulnia sambil mengangguk kecil.
“Kalau begitu aku pergi dulu,” kata rulnia lalu melambai sebentar. “Annyeong,” rulnia pun pergi.
“Ne,” jawab shican.
Dia pun kembali menuju ke kelasnya. Disepanjang perjalanan dia terus berpikir, dan bergumam sendiri, “Aku harus melihat buku itu.”
Sementara itu yesung sedari tadi berlari menuju kelasnya segera masuk kedalam kelas dan duduk dikursinya dengan perasaan galau.
“Hyaa, kau dari mana ?” tanya jinki.
Yesung hanya tersenyum kecil, “Kali ini aku yakin kalau aku akan benar-benar akan gila,” pikir yesung sambil menelungkupkan kepalanya diatas meja.
Beberapa lama kemudian. Bel istirahat berbunyi, satu persatu pintu kelas terbuka dan para siswa berhamburan keluar.
*****

hah ~ masih be continue yaa :D
tunggu aja selanjut nya ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar